20 larangan berjima bohongIslam memang mengatur segala segi kehidupan, termasuk masalah hubungan intim. Dalam hal ini, Islam mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ketika googling masalah larangan Islam dalam berhubungan intim, saya begitu terkejut dengan banyaknya blog (terutama blog-blog dari Malaysia, salah satunya jalanakhirat.wordpress.com) yang memuat wasiat Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam kepada Ali Radiallahu ‘anhu mengenai 20  larangan dalam berhubungan intim. Diantara larangan tersebut adalah:

1. Janganlah engkau berjima’ pada awal (hari pertama) bulan, pada pertengahannya (sehari) dan pada akhir (dua hari) di hujung bulan. Maka sesungguhnya penyakit gila, gila babi dan sopak mudah mengenainya dan anaknya.

2. Janganlah berjima’ dengan istrimu selepas zuhur, sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengaruniakan kepada kamu berdua anak karena jima’ pada waktu itu, maka ia akan bermata juling dan syaitan sangat suka kepada manusia yang bermata juling.

3. Janganlah bercakap-cakap semasa jima’, sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengaruniakan kepada kamu berdua anak dengan jima’ yang demikian, maka anak itu tidak selamat dari bisu.

4. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu di bawah cahaya matahari (secara langsung – direct) dan terkena warna (cahayanya), kecuali kamu mengenakan tutupan (bumbung), jika tidak maka sesungguhnya kalau Allah mengaruniakan kepada kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi seorang senantiasa hidup dalam meminta-minta dan faqir sehingga mati.”

5. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu di bawah pohon kayu yang berbuah, maka sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengaruniakan kamu berdua anak, nanti anak itu akan menjadi seorang tukang gojo, tukang sebat atau seorang ketua yang bengis,

6. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu sewaktu antara azan dan iqomah, jika berjima’ pada waktu demikian, sesungguhnya jika Allah mengaruniakan anak pada kamu berdua, nanti ia menjadi seorang yang menumpahkan darah.”

7. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu semasa ia hamil kecuali kamu berdua berwudhu’, jika tidak maka sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengaruniakan kamu berdua anak, nanti ia akan menjadi seorang yang buta hati dan bakhil tangan.”

8. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu pada pertengahan (Nisfu) Sya’ban, maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah s.w.t. mengaruniakan kamu berdua anak, nanti anak itu akan mempunyai tanda yang jelek pada muka dan rambutnya.

9. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu pada akhir bulan (yakni tinggal dua hari) maka sesungguhnya yang demikian itu jika Allah s.w.t. mengaruniakan kepada kamu berdua anak, nanti anak tersebut menjadi seorang yang senantiasa perlu meminta-minta.

10. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu pada awal malam, maka sesungguhnya jika dikaruniakan anak kepada kamu berdua, ia menjadi seorang tukang sihir, sulap, dan menghendaki dunia daripada akhirat.

11. Janganlah berjima’ dengan istrimu pada malam ‘Aidil Fitri (Raya Puasa), maka sesungguhnya jika Allah s.w.t. mengaruniakan kepada kamu berdua anak, anak itu seorang yang cacat dan tidak mendapat anak baginya kecuali sudah tua.

12. Janganlah kamu berjima’ dengan istrimu pada malam ‘Aidil Adha, maka sesungguhnya jika kamu berdua berjima’ pada malam tersebut, apabila Allah s.w.t. mengaruniakan kepada kamu berdua anak, aku bimbang ia akan menjadi seorang yang berjari enam atau empat.

Perkataan-perkataan ini lebih mirip kepercayaan Yahudi yang jika menyetubuhi istri dari belakang dapat menyebabkan anak yang dihasilkan menjadi juling.

Padahal, tidak ditemukan dalam hadits-hadits shahih ataupun di dalam Al-Qur’an mengenai larangan brejima ketika istri hamil, larangan berjima di malam iedul fitri atau iedul adha, larangan berkata-kata saat berjima dan yang lainnya seperti yang disebutkan di atas.

Kita memohon perlindungan kepada Allah dari Berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam dan dari ilmu yang menyesatkan.

Terima kasih. Semoga Bermanfaat.

Allahu a’lam