hukum pasutri merekam adegan ranjang mereka

gambar: www.sxc.hu

Ada kemungkinan pasangan suami istri ingin merekam hubungan seksual mereka (tentu saja untuk konsumsi pribadi) dengan alasan yang beragam. Mungkin untuk membangkitkan nafsu seksual mereka berdua ketika mereka menontonnya daripada menonton video porno. Sebagai kenangan atau “obat rindu” bagi pasangan suami istri yang sering berpisah untuk waktu yang lama. Atau dengan alasan lain, bahkan mungkin dengan alasan iseng saja.

Dalam Islam sendiri, bolehkan pasangan suami merekam adegan “ranjang” untuk konsumsi pribadi? Berikut ini saya kutip jawabannya dari Ustadz Abu Umar Basyir di majalah Nikah Sakinah, Vol.9 No.7, Oktober 2010

Kaidah syariat menegaskan bahwa segala yang menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain hukumnya adalah haram. Sementara, merekam adegan persetubuhan dalam media-media tertentu yang berpotensi hilang, tercecer, lalu ditemukan orang lain –dan kemungkinan itu sangatlah besar, terbukti nyaris setiap pemilik HP di tanah air pernah mengalami kehilangan hp nya– adalah bahaya yang tak dapat dipungkiri.

Hukum pornografi nasional sendiri menegaskan, menyimpan tayangan porno dalam media yang sangat mungkin tercecer sehingga akhirnya menjadi konsumsi publik dapat terjerat pidana kriminalitas!

Maka, kebiasaan itu tergolong kebiasaan haram, atau minimal syubhat dalam katagori syubhat berat, meski dengan tujuan untuk dibawa suami bepergian dan ia tonton sendiri demi memuaskan hasrat seksualnya.

Nah, bila itu dilakukan seorang suami, maka ia telah terjebak dalam perbuatan haram lain, yaitu onani. Karena tak ada gunanya ia menonton video senggamanya dengan istrinya tersebut yang bertujuan memuaskan nafsu seksnya, namun tidak dituntaskan dengan onani. Kalau itu ia lakukan, yakni menonton tanpa beronani, maka libido seks tertahan dan tak terpuaskan, yang timbul adalah hasrat lain untuk berselingkuh, yakni memuaskan nafsu seksnya dengan wanita lain yang belum sah menjadi istrinya.

Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Salam Harmonis.