Darah Istihadhah (penyakit), ialah darah yang keluar dari vagina yang bukan pada saat hari haid atau nifas. Bisa karena penyakit atau karena pemasangan alat kontrasepsi seperti spiral atau IUD (Intra Uterine Device) atau karena hal lainnya. Bolehkah berhubungan intim ketika sang istri keluar darah ini? Berikut ini jawabannya.

hukum berhubungan intim ketika istri isthihadhahPertanyaan :
Bagaimana hukumnya istri yang sedang istihadhoh disetubuhi?

( Dari : Riya Damayanti )

Jawaban :
Para ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum berhubungan intim dengan wanita yang sedang mengeluarkan darah istihadhoh, terdapat 2 pendapat berbeda dalam masalah ini;

Pendapat pertama: Mayoritas ulama’ dari kalangan madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan salah satu riwayat pendapat Imam Ahmad menyatakan bahwa berhubugan intim dewan wanita yang sedang istihadhoh hukumnya boleh, baik ketika darahnya keluar atau tidak. Imam Ibnul Mundzir menjelaskan bahwa pendapat ini juga merupakan pendapat Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, Ibnul Musayyab, Al-Hasan, Atho’ Qotadah, Sa’id bin Jabir, Hammad bin Sulaiman, Bakar bin Abdulloh Al-Muzani, Al-Auza’i, Ats-Tsauri danIshaq Abu Tsur, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir.

Dalil dari pendapat ini adalah pemahaman dari firman Alloh;

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Q.S. Al-Baqoroh : 222)

Ayat di atas secara jelas dinyatakan bahwa larangan menggauli wanita yang sedang haid berlaku sampai wanita tersebut berhenti haidnya, jadi haidnya sudah tuntas maka diperbolehkan menggaulinya, sedangkan masa istihadhoh itu bukan masa haid, karena itu ketentuan yang berlaku baginya adalah seperti ketentuan bagi wanita yang suci seperti diwajibkannya sholat dll. Karena itu diperbolehkan juga menggaulinya.

Dan berdasarkan hadits;

عَنْ حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ، أَنَّهَا كَانَتْ مُسْتَحَاضَةً وَكَانَ زَوْجُهَا يُجَامِعُهَا

“Dari Hamnah binti Jahsy, bahwa dia pernah istihadlah, dan suaminya tetap berhubungan badan dengannya.” (Sunan Abu Dawud, no.310)

Selain itu suatu larangan hanya bisa ditetapkan jika ada dalil yang melarangnya, dan tidak ada dalil yang melarang menggauli istri dalam keadaan istihadhoh.

Pendapat kedua: Menurut madzhab Hanbali, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, An-Nakho’i, Al-Hakam dan Syekh Ibnu Ulaiyah dari kalangan madzhab Maliki, menggauli wanita dalam keadaan istihadhoh itu tidak diperbolehkan, kecuali apabila tidak dilakukan takut akan berzina maka diperbolehkan.

Dalilnya adalah atsar yang diriwayatkan dari sayyidah A’isyah rodhiyallohu ‘anha, beliau bersabda;

الْمُسْتَحَاضَةُ لَا يَغْشَاهَا زَوْجُهَا

“Wanita yang sedang istihadhoh tidak boleh digauli suaminya” (Sunan Baihaqi, no.1563)

Selain itu terdapat bahaya/sakit (adza) pada wanita yang sedang istihadhoh, sedangkan alasan pelarangan menggauli wanita yang sedang haidh adalah karena adanya adza padanya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Alloh diatas, karena itulah dalam hal ini statusnya disamakan dengan wanita yang sedang haid dalam hal pelarangan menggaulinya.

Kesimpulannya, menggauli wanita dalam kondisi istihadhoh diperbolehkan menurut madzhab Syafi’i dan mayoritas ulama’, sedangkan menurut madzhab Hanbali dan beberapa ulama lainnya tidak diperbolehkan.

Meskipun begitu, jika dikhawatirkan membahayakan, baik bagi lelaki atau wanitanya sendiri terutama menggauli wanita tersebut saat darahnya keluar, sebaiknya hal ini tidak dilakukan. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh berbuat madarat dan hal yang menimbulkan madarat.” (Sunan Ibnu Majah, no.2341)

Wallohu a’lam.

( Dijawab oleh : Farid Muzakki, Permata Hati dan Siroj Munir)

Sumber: www.fikihkontemporer.com , Gambar: http://www.sxc.hu