Boleh Oral Seks, Asalkan Tidak Ada Najis Yang Mengenai Mulut

Aktivitas seksual dengan mulut, atau biasa disebut dengan oral seks adalah aktivitas seksual yang menggunakan mulut dan lidah untuk menstimulasi alat kelamin pasangannya.

Istilah oral seks ini cakupannya luas, sehingga perlu rincian dalam menentukan hukumnya. Tidak semua oral seks haram namun tidak juga semuanya halal. Para ulama kontemporer membolehkan aktivitas seks seperti ini dengan syarat tidak ada najis (seperti mazi dan urin) yang terhisap oleh pelaku oral seks tersebut.

HUKUM ORAL SEKS[1]

Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin ditanya, “Bolehkah seorang wanita mencium kemaluan suaminya, begitu pula sebaliknya?”

Beliau menjawab, “Diperbolehkan, namun dimakruhkan. Pada dasarnya, pasutri boleh saling bersenang-senang satu sama lain dalam menikmati seluruh tubuh pasangannya, kecuali jika ada dalil yang melarangnya. Boleh antara suami istri saling menyentuh kemaluan satu sama lain dengan tangan, dan juga boleh memandangnya. Akan tetapi, mencium kemaluan semacam itu tidak disukai oleh jiwa karena masih ada cara lain yang menyenangkan.”  (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 100: 13, Asy Syamilah)

Syaikh Musa Hasan Mayan (anggota Markaz Dakwah dan Bimbingan Islam di kota Madinah, Saudi Arabia) ditanya, “Apa hukum pasangan suami istri saling mencium kemaluan pasangannya?”

Beliau menjawab “Tidak mengapa melakukan seperti itu. Seorang pria boleh saja bersenang-senang dengan istrinya dengan berbagai macam cara, ia boleh menikmati seluruh tubuhnya selama tidak ada dalil yang melarang. Namun tidak boleh ia menyetubuhi istrinya di dubur dan tidak boleh berhubungan seks (jimak) ketika istrinya di masa haid. Sedangkan mencium kemaluan pasangannya, tidak ada masalah. Itu adalah tambahan dari yang dihalalkan karena tidak ada dalil yang mengharamkan, syari’at pun mendiamkannya. Sehingga oral seks semacam itu kembali ke hukum asal yaitu boleh. Yang menyatakan haramnya harus  mendatangkan dalil, namun sebenarnya tidak ada dalil yang melarang perbuatan semacam ini. Kebenaran adalah di sisi Allah.

HARAM JIKA MULUT MENGHISAP ATAU MENYENTUH YANG NAJIS

Yang dimaksud boleh mencium kemaluan adalah ketika keadaan suci. Sedangkan jika telah keluar najis, maka tentu tidak ada satu ulama pun yang membolehkannya.

Diharamkan menghisap atau memasukkan barang kotor dan najis ke mulut, termasuk air kencing, air mazi (air bening, licin dan kental yang keluar ketika bergairah), wadi (air kental, putih, buram, yang keluar sebelum atau sesudah kencing) dan air mani. Walaupun air mani tidak najis (sebagian ulama ada yang menghukuminya najis) tetapi mani ini dikategorikan ke dalam zat yang kotor.

Yang menjadi masalah adalah, walaupun sudah dicuci, penis ataupun vagina akan mengeluarkan cairan pelumas (mazi) lagi ketika dirangsang. Maka kemungkinan besar mulut akan menyentuh najis ketika menjilat alat kelamin.

MENGHINDARI NAJIS KETIKA ORAL SEKS

Istri menstimulasi suami

Jika oral seks dilakukan dengan cara memasukan penis ke mulut istri (lubang urine masuk ke mulut), maka kemungkinan besar sang istri akan menghisap air mazi walaupun penis sudah dibersihkan terlebih dulu. Hal ini karena air mazi akan keluar lagi ketika suami bergairah. Sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menghindari terhisapnya air mazi jika oral seks dilakukan dengan cara memasukkan kepala penis ke mulut. Sebaiknya praktek oral seks seperti ini dihindari.

Aktivitas ini sebaiknya hanya dilakukan dengan tujuan pemanasan atau bersenang-senang, bukan untuk membuat sang suami orgasme dan ejakulasi

Cara oral seks yang memungkinkan terhindar dari mulut menyentuh najis namun tetap menghasilkan kenikmatan yang maksimal dibahas secara rinci di buku Selimut Ungu. (terlalu vulgar untuk dibahas di sini)

Suami menstimulasi istri

Jika oral seks dilakukan dengan cara mencium lubang vagina, maka, sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menghindari terhisap atau tersentuhnya cairan mazi oleh mulut suami, karena walaupun sudah dibersihkan, sang istri akan mengeluarkan cairan mazi lagi ketika bergairah. Maka, sebaiknya praktek oral seks di lubang vagina ini dihindari.

Cara oral seks yang memungkinkan terhindar dari mulut menyentuh najis namun tetap menghasilkan kenikmatan yang maksimal dibahas secara rinci di buku Selimut Ungu. (terlalu vulgar untuk dibahas di sini)


[1] Diringkas dari artikel: Muhammad Abduh Tuasikal, “Hukum Oral Sex”, https://rumaysho.com/2050-hukum-oral-seks.html (diakses pada 25 Mei 2020)