Hukum Bolehnya Khitan (Sunat) Dengan Laser

Ternyata, boleh khitan dengan alat laser, atau alat yang menggunakan panas. Hal ini pernah menjadi perdebatan di kalangan orang awam karena laser ini menurut sebagian orang termasuk ke dalam pengobatan jenis kay. Namun ternyata, tidak demikian. Sebagaimana dikutip dari konsultasisyariah.com tentang jawaban dari pertanyaan berikut:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Insya Allah saya ingin mengkhitankan anak saya. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana hukum khitan dengan menggunakan laser? Apakah ini termasuk pengobatan dengan menggunakan kay?

Jazakallah khairan atas jawaban Ustadz

Dari: Sri

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Inti dari khitan bagi lelaki adalah terpotongnya lapisan kulit (foreskin) yang menutupi tudung dzakar (glans penis). Dalam Mausu’ah Fiqhiyah dinyatakan:

Khitan bagi laki-laki dilakukan dengan memotong lapisan kulit yang menutupi hasyafah (tudung dzakar). Kulit ini disebut qulfah atau ghurlah, di mana kulit ini menutupi seluruh hasyafah (tudung dzakar) (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 19:28)

Untuk itu, jika khitan dengan laser ini hasilnya seperti khitan dengan pisau, berupa terpotongnya bagian kulit yang menutupi tudung dzakar, dan tidak membahayakan anak yang dikhitan maka boleh digunakan.

Syaikh Sa’d bin Turki al-Khatslan hafizhahullah dalam acara al-Jawab al-Kafi, pernah ditanya tentang hukum khitan anak menggunakan solder yang digunakan dalam dunia kedokteran. Beliau menjawab

“Khitan anak laki-laki, hukumnya sunah dan menjadi wajib ketika usia baligh. Adapun untuk alatnya, maka ini berbeda-beda sesuai perkembangan kebiasaan masyarakat dan teknologi. Hanya saja, terkait bagian dzakar yang diharapkan adalah terpotongnya qulfah (foreskin) yang bersambung dengan tudung dzakar. Kulit ini dipotong dengan cara apa pun.

Di zaman kita saat ini, di mana kita hidup di era kemajuan ilmu kedokteran, selayaknya meminta bantuan dokter. Jika cara yang digunakan adalah cara yang aman menurut dokter, hukumnya tidak masalah. Karena sarana itu berbeda-beda. Ketika sarana yang digunakan tersebut bisa mewujudkan tujuan khitan dengan cara yang aman, tidak membahayakan, maka hukumnya boleh.”

Allahu a’lam