Jangan diumbar, jaga rahasia aktivitas seksual Anda.

Aktivitas seksual adalah aktivitas yang sangat pribadi dan harus dilakukan di tempat yang tertutup. Jangan diceritakan apalagi diperlihatkan. Bahkan sebelum berjimak, atau hanya sekedar bermesraan pun jangan dilakukan di sembarang tempat.

Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan terkait privasi dalam hubungan seksual:

1. TIDAK TERLIHAT

Penting untuk diperhatikan bahwa aktivitas seksual betul-betul harus dilakukan di tempat yang tertutup dan tidak dilihat oleh orang lain, termasuk tidak dilihat oleh anak-anak.

Betul-betul harus diperiksa dan dipastikan bahwa pintu, jendela, dan gorden sudah ditutup rapat dan juga dikunci, sehingga menutup kemungkinan untuk terlihat oleh orang lain dan menutup kemungkinan orang lain masuk secara tiba-tiba ke ruangan tersebut.

Hal ini lebih penting lagi jika kita tinggal di pemukiman padat penduduk yang rumahnya saling berdempetan, di mana tetangga dengan mudah melewati rumah kita dan melihat aktivitas di dalam rumah, walaupun hal tersebut terjadi tanpa sengaja. Sebagaimana menutup aurat di hadapan orang lain adalah wajib, maka menutup aurat pada saat melakukan aktivitas seksual tentu lebih wajib lagi.

Kita juga dilarang untuk melakukan aktivitas seksual di tempat umum dan terbuka yang kemungkinan bisa dilihat oleh orang lain tanpa kita sadari, seperti di taman, di pantai, di teras luar rumah dan tempat terbuka lainnya.

2. TIDAK TERDENGAR

Suara desahan dan suara-suara lain dalam melakukan aktivitas seksual memang bisa meningkatkan gairah dan kepuasan seksual. Namun, jika suara-suara tersebut bisa terdengar oleh orang lain, maka suara tersebut haruslah diminimalisir.

Jika kita tinggal di daerah padat penduduk, di mana suara dari satu rumah bisa didengar oleh penghuni rumah yang lain, atau jika kita tinggal satu rumah dengan orang tua atau dengan yang lainnya, di mana suara dari ruangan satu bisa terdengar ke ruangan yang lain, maka menahan suara ketika beraktivitas seksual adalah sebuah keharusan.

Jika ada pasangan suami istri yang tidak bisa menahan suaranya ketika melakukan aktivitas seksual, padahal mereka sudah berusaha untuk menahannya, maka pasangan tersebut harus menghindari hubungan seksual ketika ada orang lain di rumah atau mereka bisa pergi ke suatu tempat di mana tidak ada orang lain yang bisa mendengar suara mereka.[1]

3. TIDAK ADA ANAK-ANAK.

Diharamkan untuk melakukan hubungan seksual dengan kehadiran anak-anak yang telah mencapai usia tamyiz (usia yang sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk menurut akalnya. Biasanya usia antara 2-7 tahun). Larangan ini berlaku juga untuk aktivitas pembuka, seperti berciuman, berpelukan atau saling meraba bagian intim.

Islam sangat memperhatikan larangan ini, sampai anak-anak yang biasa masuk ke kamar orang tuanya harus meminta izin ketika mereka ingin memasuki kamar tersebut pada tiga waktu khusus. Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِيَسْتَـْٔذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ وَٱلَّذِينَ لَمۡ يَبۡلُغُواْ ٱلۡحُلُمَ مِنكُمۡ ثَلَٰثَ مَرَّٰتٖۚ مِّن قَبۡلِ صَلَوٰةِ ٱلۡفَجۡرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ وَمِنۢ بَعۡدِ صَلَوٰةِ ٱلۡعِشَآءِۚ ثَلَٰثُ عَوۡرَٰتٖ لَّكُمۡۚ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم بَعۡضُكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu pada tiga kali (waktu) yaitu: sebelum salat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah salat Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak (pula) bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu; Mereka melayani kamu, sebagian kamu perlu kepada sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Al-Qur’an, surat An-Nur: 58)

Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya, “Pembantu dan anak-anak diperintahkan untuk tidak langsung masuk ke ruangan tuan atau orang tuanya (harus meminta izin dulu) pada tiga waktu pribadi tersebut. Dikhawatirkan mereka sedang melakukan aktivitas seksual “[2]

Jangan menyepelekan kehadiran anak-anak yang mungkin kita kira belum paham tentang seksualitas. Hal ini (jika mereka melihat adegan itu) memiliki efek negatif yang besar pada pertumbuhan mental mereka. Mereka akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya karena anak-anak diciptakan dengan insting meniru. Dikhawatirkan mereka akan melakukan hal tersebut bersama anak-anak lainnya.

4. TIDAK DICERITAKAN

Suami ataupun istri dilarang untuk menceritakan aktivitas seksual yang yang dilakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya yang termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian menyebarkan rahasia tersebut.”[3]

Menjelaskan hadis di atas, Imam An-Nawawi berkata:

“Dalam hadis ini, terdapat larangan bagi suami untuk menyebarkan apa yang terjadi antara dia dan istrinya dalam perkara istimta’ (bersenang-senang/beraktivitas seksual). Dilarang untuk menggambarkan secara detail apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh istrinya, baik berupa ucapan ataupun perbuatan. Adapun jika hanya mengatakan bahwa dia melakukan hubungan intim (tanpa menyebutkan deailnya), jika hal itu tidak ada faidah dan tidak ada kebutuhan, maka hukumnya makruh, karena hal ini dinilai menurunkan muru’ah (kehormatan seseorang).” (Syarh Shahih Muslim, 5: 162)

Di riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْأَمَانَةِ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya (pelanggaran) amanah terbesar di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian menyebarkan rahasia tersebut.”[4]

5. TIDAK DIFOTO ATAU DIVIDEO

Tidak diperbolehkan memotret atau memvideokan pasangan dalam keadaan tidak menutup aurat atau ketika beraktivitas seksual walaupun tujuannya sebagai dokumentasi dan konsumsi pribadi. Hal ini terlarang karena membuka peluang foto atau video tersebut bisa dilihat oleh orang lain.

Di jaman yang serba online ini, banyak cara untuk mengakses file pada perangkat orang lain. Selain itu, bukankah tidak ada jaminan bahwa besok kita masih hidup? Bagaimana jika kita meninggal sedangkan kita meninggalkan foto atau video pribadi yang bisa dilihat oleh orang lain? Belum lagi, bagaimana jika foto dan video tersebut dilihat oleh anak-anak kita? Sungguh berbahaya.


[1] Muhammad ibn Adam al-Kawthari, Islamic Guide to Sexual Relations (London: Turath Publishing, 2008), hlm. 77

[2] Imam ibn Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Adzim, penjelasan surat An-Nur, ayat 58

[3] Sahih Muslim, kitab nikah, hadis no. 1437

[4] Sahih Muslim, kitab nikah, hadis no. 1437