Jangan merasa sia-sia ketika beraktivitas seksual dan jangan meremehkannya

Ada beberapa permainan yang tidak dianggap sebagai sesuatu yang sia-sia, dan salah satunya adalah “permainan” atau aktivitas seksual antara suami dan istri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ مَا يَلْهُو بِهِ الرَّجُلُ الْمُسْلِمُ بَاطِلٌ إِلاَّ رَمْيَهُ بِقَوْسِهِ وَتَأْدِيبَهُ فَرَسَهُ وَمُلاَعَبَتَهُ أَهْلَهُ فَإِنَّهُنَّ مِنَ الْحَقِّ

Semua yang melalaikan seorang muslim adalah batil, kecuali memanah, melatih kuda, dan ‘permainan’ suami dengan istrinya. Karena semua itu termasuk al-haq. [Jami at-Tirmidzi, kitab keutamaan jihad, hadis no. 1637]

Kegiatan-kegiatan tersebut memang bisa melalaikan, dalam arti, mungkin si pelakunya asyik dengan kegiatan itu. Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengecualikan kelalaian ini sebagai hal yang sia-sia, karena kelalaian tersebut termasuk al-haq (kebenaran).

BENARKAH ORANG SALEH TIDAK PANTAS BERMAIN-MAIN DAN BERMESRAAN?

Ada yang berpendapat bahwa menikmati kemesraan itu tidak pantas dilakukan dan bertentangan dengan kesalehan seseorang.

Ini adalah pendapat yang salah. Siapakah yang lebih bertakwa, lebih saleh, lebih takut dan lebih cinta kepada Allah daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Namun, walaupun demikian, beliau menganjurkan untuk “bermain-main” dengan istri dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  sendiri melakukannya.

Bukanlah tanda kesalehan ketika kita tidak bermain-main, tidak bermesraan dan tidak bercumbu rayu dengan istri kita. Hal ini karena tidak ada kerahiban (bertapa, menjauhkan diri dari kehidupan dunia) di dalam agama Islam. Islam adalah agama realistis yang memperbolehkan pemeluknya untuk memenuhi dan menikmati hasrat seksualnya. Hanya saja, Islam mengatur batasan-batasannya dan tidak membiarkan-nya tanpa aturan.

Ada kisah yang menarik tentang bagaimana seharusnya orang beriman mengatur keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan menunaikan hak manusia. Abu Juhaifah menceritakan dari ayahnya:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda. Ketika Salman berkunjung ke rumah Abu Darda, ia melihat Ummu Darda (istri Abu Darda) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, “Mengapa keadaanmu seperti itu?” Ummu Darda menjawab, “Saudaramu Abu Darda sudah tidak mempunyai keinginan lagi pada keduniaan.”

Kemudian Abu Darda datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Abu Darda berkata kepada Salman, “Makanlah, karena saya sedang berpuasa” Salman menjawab, “Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.” Maka Abu Darda pun makan.

Pada malam harinya, Abu Darda bangun untuk mengerjakan salat malam. Salman pun berkata padanya, “Tidurlah” Abu Darda pun tidur kembali. Ketika Abu Darda bangun lagi hendak mengerjakan salat malam, Salman berkata lagi padanya, “Tidurlah”. Ketika akhir malam, Salman berkata, “Bangunlah” Lalu mereka salat bersama-sama.

Setelah itu, Salman berkata kepada Abu Darda, “Bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.“

Abu Darda mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan apa yang terjadi. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salman itu benar.” [Sahih Al-Bukhari, kitab puasa, hadis no. 1968]