Pertanyaan:

Sudah seminggu ini Saya berada di kampung halaman. Satu hari sebelum penerbangan pulang, saya menelepon istri saya dan memintanya untuk tidak berpuasa di hari ketika saya datang. Hal ini dikarenakan saya tipe orang yang tidak sabar dan tidak bisa menahan nafsu, dan saya ingin langsung berhubungan intim ketika saya sampai di rumah. Istri saya mematuhi permintaan saya dan kami melakukan hubungan intim pada siang hari itu. Apakah kami telah melakukan sebuah dosa?

Jawaban:

Alhamdulillah, segala Puji hanyalah untuk Allah Ta’ala

Jika kejadian yang anda sebutkan tersebut terjadi SELAIN di bulan Ramadhan, maka tidak ada dosa sama sekali, dikarenakan puasa sunnah tidak harus disempurnakan; walaupun seseorang sedang berpuasa, dia boleh berbuka (membatalkannya), menurut mayoritas ulama.

Akan tetapi, jika hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan, maka ini adalah termasuk Dosa Besar. Bagaimana mungkin seseorang membatalkan puasanya tanpa ada alasan yang benar secara Syar’i.

Jika hal tersebut terjadi di bulan Ramadhan, maka berikut ini pembahasan lebih lanjutnya:

1 – Jika anda sampai ke rumah sebelum adzan subuh, maka anda harus berpuasa di hari tersebut, dikarenakan status anda sebagai musafir (orang dalam perjalanan) telah berakhir ketika anda sampai di rumah. Jika anda dengan sengaja tidak berpuasa pada hari itu, dan istri anda juga membatalkan puasanya (sehingga anda bisa berjima dengannya), maka anda berdua melakukan kesalahan (dosa), dan anda berdua harus meneruskan puasa dan menggantinya, serta (anda berdua) harus melaksanakan kafarat (denda) untuk kesalahan berjima di bulan siang hari ramadhan.

2 – Jika anda sampai ke rumah pada siang hari, menurut pendapat yang tepat adalah, jika memang seorang yang dalam perjalanan tidak puasa, dan dia sampai ke rumah, maka dia tidak harus menahan diri dari makan dan minum di sisa harinya, dikarenakan dia akan mengganti puasanya di lain waktu. Pendapat ini disebutkan oleh Imam Ahmad, dan in iadalah pandangan dari Shaafa’is. [Silahkan lihat Sharh al-Mushayqih ‘ala Zaad al-Ma’aad, 4/282-285.]. Akan tetapi, anda tetap berdosa dikarenakan meminta istri anda untuk tidak berpuasa, dan dia juga berdosa dikarenakan mematuhi permintaan anda. Jika dia tidak berpuasa dikarenakan agar bisa berhubungan intim dengan anda, maka dia harus mengganti hari tersebut dan membayar/mengganti kafarat (denda) dikarenakan hubungan intim yang dia lakukan. Hal ini sudah di diskusikan di pertanyaan no. 38023, 22938 dan 1672. (mohon maaf, masih dalam bahasa inggris)

Allahu a’lam.

Sumber: diterjemahkan dari http://islamqa.info/en/38287