perbedaan air mani dan madzi serta wadiPengetahuan mengenai perbedaan air mani dan madzi ini sangatlah penting. Masih banyak kalangan kaum muslimin yang belum bisa membedakan antara keduanya. Yang karena ketidaktahuan mereka, menyebabkan mereka ditimpa oleh fitnah was-was dan salah dalam menindak lanjutinya; ketika ada cairan yang keluar dari kemaluannya seperti kencing dan wadi dan membuatnya ragu-ragu dan dia langsung mandi junub.

Bisa juga ketika berhubungan suami istri, sang suami menganggap istrinya telah mencapai orgasme karena kemaluan istrinya basah dan becek (padahal itu hanyalah madzi) yang mengakibatkan dia puas dengan dirinya sendiri dan tidak tercapainya keinginan istri. Berikut ini beberapa penjelasan mengenai ketiganya dan cara bersuci darinya.

AIR MANI

Mani adalah cairan yang keluar memancar dari kemaluan, biasanya keluarnya cairan ini diiringi dengan rasa nikmat dan dibarengi dengan syahwat. Mani dapat keluar dalam keadaan sadar (seperti karena berhubungan suami-istri) ataupun dalam keadaan tidur (“mimpi basah”).

gambar sperma pria

Sperma Pria

Mani lelaki berbentuk cairan pekat kental berwarna putih, adapun mani wanita encer berwarna kuning. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Ummu Sulaim Radhiyallahu ‘Anha:

Anas bin Malik Radiallahu ‘anhu berkata,

“Ummu Sulaim pernah bercerita bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang bermimpi (bersenggama) sebagaimana yang terjadi pada seorang lelaki. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila perempuan tersebut bermimpi keluar mani, maka dia wajib mandi.” Ummu Sulaim berkata, “Maka aku menjadi malu karenanya”. Ummu Sulaim kembali bertanya, “Apakah keluarnya mani memungkinkan pada perempuan?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ya (wanita juga keluar mani, kalau dia tidak keluar) maka dari mana terjadi kemiripan (anak dengan ibunya)? Ketahuilah bahwa mani lelaki itu kental dan berwarna putih, sedangkan mani perempuan itu encer dan berwarna kuning. Yang mana mani dari salah seorang mereka yang lebih mendominasi atau menang, niscaya kemiripan terjadi karenanya.” (HR. Muslim no. 469)

Karakteristik mani pria: 

1-Memancar akibat dorongan syahwat disertai rasa nikmat (orgasme) dan lemah setelahnya.
2-Baunya seperti bau mayang kurma sebagaimana yang telah dijelaskan.
3-Keluarnya dengan memancar sedikit demi sedikit.

Salah satu dari ketiga karakteristik tersebut cukup untuk menentukan apakah yang keluar itu mani ataukah bukan. Jika tidak ditemukan salah satu dari ketiga karakter di atas maka tidak boleh dihukumi sebagai mani karena dengan begitu hampir bisa dipastikan bahwa ia bukan mani.

 Karakteristik Mani Wanita

Adapun mani wanita warnanya kuning dan encer (Meskipun terkadang ada wanita yang air maninya berwarna putih terutama bila kadarnya melebihi rata-rata.

Ada dua karakteristik yang jadi patokan dalam menentukan mani wanita.
1-Baunya seperti bau mani pria.
2-Nikmat saat mengeluarkannya (orgasme) dan merasakan lemah setelah itu.

Warna mani bisa berubah disebabkan beberapa hal di antaranya: Sedang sakit, maninya akan berubah cair dan kuning, atau kantung testis melemah sehingga mani keluar tanpa dipacu oleh syahwat, atau karena terlalu sering bersenggama sehingga warna mani berubah merah seperti air perahan daging dan kadangkala yang keluar adalah darah.”

Status Pakaian yang Terkena Mani

Menurut pendapat ulama, mani itu suci maka pakaian yang terkena mani tidaklah najis.  Seseorang boleh mengerjakan shalat dengan menggunakan pakaian tersebut. 

Dalam kitab Al-Mughni (I/763) Ibnu Qudamah berkata:
“Dianjurkan agar mengerik mani yang melekat pada pakaian meskipun kita telah menyatakan bahwa mani itu suci. Namun tetap sah shalat dengan mengenakan pakaian yang terkena mani sekalipun belum dikerik.”

Konsekwensi hukum dari keluarnya mani

Diwajibkan mandi janabah/junub, baik maninya keluar saat sadar sebab bersenggama atau sebab lainnya seperti saat tidur (mimpi basah).

 

AIR MADZI

Karakteristik Madzi

Adapun madzi adalah cairan putih bening dan agak kental. Keluarnya ketika syahwat terangsang (seperti saat foreplay), karena berimajinasi atau melihat sesuatu yang membangkitkan gairah. Madzi keluar dengan tidak memancar (tidak orgasme) dan tidak membuat lemas.

gambar madzi pria

Madzi Pria

Keluarnya madzi dialami kaum wanita dan kaum pria. Namun dalam hal ini, kaum wanita lebih sering mengalaminya dan dalam jumlah yang lebih banyak. Karena memang air madzi ini bagi wanita bermanfaat sebagai pelumas  dan tentu saja tanda bagi suami bahwa sang istri telah ‘siap’. Sedangkan madzi yang keluar dari penis, selain sebagai pelumas, juga sebagai pelicin dan pembersih sisa air kencing untuk jalannya sperma serta menetralisir asam pada vagina.

 

Konseksuensi hukum yang timbul karena keluar madzi.

Orang yang mengeluarkan madzi cukup berwudhu’ saja. Dalilnya riwayat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata:
“Saya adalah seorang pria yang sering mengeluarkan madzi. Sayapun menyuruh Miqdad untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah berkata: “Cukup berwudhu’ saja!”
Muttafaqun ‘alaihi, matan di atas adalah riwayat Al-Bukhari.

Dalam kitab Al-Mughni (I/168) Ibnu Qudamah berkata:
“Ibnul Mundzir mengatakan: Ahli ilmu sepakat bahwa keluarnya kotoran dari dubur, keluarnya air seni dari kemaluan, keluarnya madzi dan keluarnya angin dari dubur menyebabkan hadast serta membatalkan wudhu’.

Status pakaian yang terkena madzi.

Adapun madzi statusnya najis berdasarkan hadits Ali Radhiyallahu ‘Anhu di atas tadi. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan beliau untuk mencuci zakar dan biji pelir lalu berwudhu’. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah dalam Al-Mushtakhrij.

Dalam kitab At-Talkhis Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata:
“Sanadnya bersih tidak ada cacatnya. Oleh sebab itu, madzi statusnya najis wajib mencuci zakar dan buah pelir karena mengeluarknnya serta membatalkan wudhu’.”

Adapun pakaian yang terkena madzi, maka cukuplah dengan memercikkan air pada pakaian yang terkena, karena sangat menyulitkan bila harus dicuci.

Dalilnya adalah riwayat Abu Dawud dalam Sunannya dari Sahal bin Hanif Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ia berkata:
“Saya merasakan kesulitan yang sangat disebabkan sering mengeluarkan madzi sehingga saya berulangkali mandi. Lalu saya tanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau menjawab: “Cukup bagimu berwudhu’!”
“Wahai Rasulullah, bagaimana dengan pakaian yang terkena madzi?” tanyaku lagi.
“Cukup engkau ambil seciduk air lalu percikkan tempat yang diyakini terkena madzi” jawab beliau.
H.R At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahih, kami tidak mengetahui hadits tentang madzi dari Muhammad bin Ishaq kecuali riwayat ini.
Penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi (I/373) berkata:
“Hadits di atas merupakan dalil bahwa bila madzi mengenai pakaian maka cukup dipercikkan air pada bagian yang terkena dan tidak perlu dicuci. Wallahu a’lam.

 

BAGAIMANA JIKA MERAGUKAN?

Ketika kita tidak bisa membedakan cairan yang keluar, apakah itu mani ataukah madzi, maka orang yang mengalaminya berhak untuk memilih sesuai dengan apa yang meyakinkan baginya. Ini merupakan pendapat Madzhab Syafi’i. Sebagaimana keterangan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 161293.

Allahu a’lam.

Dikombinasikan dari berbagai sumber:

http://www.konsultasisyariah.com/mani-dan-madzi-bagi-wanita/#
http://www.islamqa.com/id/2458
http://nasional.kompas.com/read/2013/08/05/0928117/Konsultasi.Apa.Perbedaan.Mani.Wadhi.dan.Madzi.