fbpx

Bisa Berakibat Fatal, Pahamilah Kesalahan di Malam Pertama ini.

Malam pertama adalah malam yang menegangkan dan membuat gugup. Terkadang, kegugupan dan kekhawatiran pengantin baru diperparah dengan tersebarnya informasi yang salah tentang malam pertama. Tak jarang informasi itu hanyalah mitos-mitos yang justru akan merugikan pasangan pengantin. Berikut ini beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh pasangan pengantin baru:

1. JANGAN BERPRASANGKA BURUK JIKA “TIDAK ADA DARAH” DI MALAM PERTAMA

Banyak orang menganggap bahwa pendarahan akibat robeknya selaput dara di malam pertama merupakan tanda bahwa wanita tersebut masih perawan. Saking pentingnya “selaput dara” ini, ada suami yang langsung menceraikan istrinya dikarenakan tidak ada darah di malam pertamanya. Benar-benar sesuatu yang sangat menyedihkan.

Anggapan tentang “darah” ini sangat menyesatkan. Hal ini membuat banyak istri khawatir bila tidak mengeluarkan darah di malam pertama. Juga membuat para suami curiga ketika tidak ada darah di malam pertama. Faktanya, tidak semua wanita perawan akan berdarah di malam pertamanya.

Salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang suami adalah: jangan pernah berprasangka buruk kepada istri. Berprasangka buruk tanpa alasan yang benar adalah termasuk dosa besar. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Sukakah kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Qur’an surat Al-Hujurat: 12)

Jika tidak ada darah, jangan dulu berprasangka buruk, dahulukanlah prasangka yang baik kepada istri. Berikut ini dua kemungkinan ketika tidak ada darah di malam pertama:

Pertama, Ketika wanita mendapatkan rangsangan seksual yang cukup lama, semua organ reproduksinya menjadi lentur, sehingga selaput tidak robek ketika melakukan hubungan seksual. Bahkan, mungkin selaput dara istri akan tetap utuh sampai menjelang melahirkan.

Kedua, Selaput dara, atau lapisan tipis yang menutupi lubang vagina bisa robek dengan  beragam cara, tidak hanya karena hubungan seksual. Lapisan ini bisa robek dikarenakan aliran darah haid yang banyak, sakit yang parah, terjatuh, sering melakukan loncatan, menunggang kuda, bersepeda, atau olah raga lainnya.

Seharusnya, ada dan tidak adanya darah di malam pertama tidak lagi menjadi masalah besar yang memunculkan kecurigaan yang berlebihan.

2. MEROBEK SELAPUT DARA DAN BERDARAH BUKANLAH UKURAN KEBERHASILAN.

Ada anggapan bahwa malam pertama disebut berhasil jika suami bisa merobek selaput dara istri dan membuat vaginanya mengeluarkan darah. Tentu ini anggapan yang keliru. Jika ini diyakini, tentu sang suami akan kecewa, tidak percaya diri dan merasa dirinya gagal ketika di malam pertama tidak bisa membuat istrinya berdarah.

Seperti dijelaskan di poin sebelumnya, pendarahan pada malam pertama tidak harus terjadi, dan memang tidak selalu terjadi. Ketika tidak terjadi pendarahan, bukan berarti malam pertama tersebut gagal.

Terlepas apakah di malam itu sang istri berdarah atau tidak, malam pertama bisa dikatakan berhasil ketika sang suami bisa membuat istrinya merasa nyaman dan aman, terlebih lagi jika bisa memberikan kenikmatan seksual di malam pertama tersebut.

3. ISTRI JANGAN TAKUT SAKIT DI MALAM PERTAMA.

Banyak wanita takut menghadapi malam pertama karena membayangkan betapa sakitnya ketika penis pasangannya masuk ke dalam vagina. Ketakutan ini biasanya diperparah dengan adanya cerita dari orang-orang yang mengalami sakit di malam pertama mereka.

Betul memang ketika pendarahan dan robeknya selaput dara akan mengakibatkan rasa sakit. Namun ini pun kasuistik, artinya, tidak setiap yang mengalami pendarahan dan robek selaput daranya akan merasakan sakit yang hebat.

Rasa sakit itu biasanya terjadi karena organ seksual istri belum terangsang secara sempurna, sehingga cairan pelumas (madzi) belum keluar. Sakit atau tidaknya proses penetrasi sebagian besar terletak pada seberapa banyak cairan pelumas yang dihasilkan ketika pemanasan dan seberapa lentur hymen (selaput dara) sang istri saat berjimak. Bila vagina belum lentur dan belum licin, maka akan timbul rasa sakit ketika dipenetrasi.

Ketika sang istri menerima rangsangan seksual yang cukup lama dari suami, maka akan keluar cairan pelumas alami dari vagina. Selain itu, ketika sang istri terangsang, aliran darahnya akan mengalir dengan cepat. Hal ini menyebabkan seluruh pembuluh darahnya melebar, termasuk pembuluh darah pada bagian vagina. Pelebaran pembuluh darah inilah yang berperan penting dalam proses pelenturan vagina dan selaput dara.

Di sinilah peran suami sangat dibutuhkan. Melakukan Foreplay atau pemanasan yang cukup adalah metode paling bagus untuk membuat seks pertama (tentu seks berikutnya juga) tidak menyakitkan.

4. MALAM PERTAMA ADALAH BAGIAN DARI PROSES BELAJAR, BUKAN PENENTUAN.

Jangan terlalu khawatir jika malam pertama tidak berjalan sebagaimana yang kita bayangkan. Pada kenyataannya, malam pertama memang banyak yang tidak sesuai seperti yang dibayangkan.

Kedua belah pihak, baik suami ataupun istri haruslah memahami bahwa malam pertama bukanlah malam penentuan berhasil atau tidaknya kehidupan seks mereka. Malam pertama adalah permulaan dari proses pembelajaran dan pengenalan yang panjang yang akan dijalani selama pernikahan. Jangan merasa rendah diri jika di malam pertama ini tidak bisa menjadi sosok yang sempurna. Juga jangan menunjukkan kekecewaan yang berlebihan ketika pasangan tidak bersikap seideal seperti yang kita harapkan.

Dengan menanamkan sikap pembelajar, diharapkan pasangan pengantin baru ini bisa memahami satu sama lain. Mencari tahu kekurangan diri untuk diperbaiki dan menghargai kekurangan pasangan untuk bersama-sama diperbaiki