Pengantin Baru: Adab-Adab Islami di Malam Pertama

Berikut ini beberapa adab atau etika malam pertama bagi pengantin baru yang disarikan dari hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengikuti adab-adabnya, diharapkan tercipta interaksi yang harmonis dan penuh dengan keberkahan. Kita tidak sampai membahas pada masalah jimak, karena itu akan dibahas pada adab dalam berjimak.

1. MENGUCAPKAN SALAM

Ketika pertama kali bertemu, hendaknya saling mengucapkan salam. Jika pengantin wanita sudah mendahului berada di kamar, pengantin pria mengetuk pintu perlahan-lahan sembari mengucapkan salam yang lembut kepada istrinya yang telah menunggu di dalam.

2. MENCAIRKAN SUASANA DENGAN MINUM BERSAMA

Karena pertama kalinya pasangan pengantin baru ini melakukan pertemuan secara pribadi, maka sangat wajar jika muncul rasa malu, kikuk, grogi, khawatir dan perasaan-perasaan canggung lainnya.

Istri biasanya akan merasa lebih gugup dan lebih kaku. Oleh karena itu, suami harus menunjukkan perannya sebagai orang yang bisa membuat istrinya merasa aman dengan cara menciptakan suasana yang nyaman.

Salah satu cara untuk mencairkan suasana adalah dengan membawakan dan menyuguhkan minuman seperti susu atau teh untuk diminum dari gelas yang sama. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Asma binti Yazid tentang apa yang terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Aisyah (semoga Allah meridainya)

Asma binti Yazid berkata, “Saya merias Aisyah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian saya memanggil beliau untuk masuk melihatnya. Maka Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk dan duduk di samping Aisyah.”

“Seseorang datang memberikan segelas besar susu pada beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meminum susu tersebut, dan menyuguhkannya kepada istrinya (Aisyah). Tapi istrinya menundukkan kepalanya dan bermalu-malu.”

“Saya (Asma) katakan kepada Aisyah, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Nabi’. Maka dia (Aisyah) mengambil gelas itu dan meminumnya sedikit. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, ‘Berikan kepada temanmu’.”

“Saya (Asma) berkata, ‘Ya, Rasulullah, ambil kembali gelas itu dan minumlah sebagian dari susu itu, kemudian berikan gelas itu kepada saya langsung dari tangan Anda’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima kembali gelas itu dan meminumnya. Kemudian memberikannya kepada saya.” [Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Adab Az-Zifaf: Panduan Pernikahan Cara Nabi. Terj: Abu Shafiya, (Jogjakarta: Media Hidayah 2004) hlm. 82]

3. BERDOA MEMOHON KEBAIKAN DAN BERLINDUNG DARI KEBURUKAN.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak, maka peganglah kepalanya lalu bacalah ‘basmalah’ serta doakanlah dengan doa berkah seraya mengucapkan:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau takdirkan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau takdirkan kepadanya.” [Sunan Abu Dawud, kitab nikah, hadis no. 2160 (dihasankan oleh Al-Albani)]

Jika dikhawatirkan istri merasa tersinggung bila disentuh kepalanya untuk dibacakan doa tersebut, maka cara menyentuhnya bisa dilakukan sambil seolah-olah hendak mencium keningnya. Doa diucapkan dengan pelan saja, sehingga tidak terdengar oleh istri, namun doa harus tetap diucapkan dengan lisan meski tidak terdengar.

Tetapi, jika sang istri adalah orang yang paham ilmu agama dan telah mengetahui adanya doa ini, maka suami bisa menyentuh kepalanya dan memperdengarkan doa tersebut.

4. SALAT SUNAH BERJAMAAH DAN BERDOA SETELAHNYA

Dianjurkan bagi kedua mempelai untuk mengerjakan salat sunah dua rakaat. Ingat, ini dilakukan hanya berdua saja, oleh suami dan istri. Jangan mengajak orang lain. Suami menjadi imam, dan istri menjadi makmum.

Setelah salat, panjatkanlah rasa syukur atas pernikahan yang telah dilaksanakan. Mohonlah kepada Allah Ta’ala agar Dia memberkahi keluarga baru Anda, melindunginya dari keburukan, melimpahkan kebaikan, kesejahteraan, ketenangan, cinta kasih, dan mengaruniai keturunan yang saleh dan salehah. Berdoalah dengan penuh kekhusyuan dan penuh pengharapan kepada Allah Yang Maha Mengabulkan doa.

Salah satu dalilnya adalah hadis dari Syaqiq, ia berkata: “Seorang laki-laki bernama Abu Huraiz datang kepada Abdullah Ibnu Mas’ud dan berkata, ‘Saya telah menikahi seorang wanita jariah yang masih muda dan saya khawatir ia akan membuat saya marah’.

Maka Abdullah Ibnu Mas’ud menjawab, “Kerukunan itu datangnya dari Allah dan kemarahan itu datang dari syaitan. Syaitan menginginkan kamu membenci apa yang sudah Allah halalkan. Jika istrimu datang menghampiri, perintahkanlah ia salat sunah dua rakaat berjamaah di belakangmu.”

Di dalam riwayat lain, Abdullah Ibnu Mas’ud menambahkan doa setelah salat: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada keluargaku. Ya Allah, satukanlah kami  dalam persatuan yang mengandung kebaikan dan pisahkanlah kami jika perpisahan itu membawa kepada kebaikan’.” [Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Adab Az-Zifaf: Panduan Pernikahan Cara Nabi. Terj: Abu Shafiya, (Jogjakarta: Media Hidayah 2004) hlm. 86]

5. MEMBANGUN ROMANTISME

Pada pertemuan pertama ini, kata-kata romantis dan pujian dari suami berperan penting dalam membuka hati sang istri. Pujian terhadap penampilannya, pujian terhadap keindahan mata, bibir, hidung, rambut, kulit dan pujian untuk senyumnya yang manis akan membuatnya bahagia dan merasa berharga. Jangan lupa untuk mengucapkan masya Allah dan juga memuji Allah ketika Anda memuji sang istri.

Iringi juga rayuan-rayuan tersebut dengan aktivitas fisik yang menumbuhkan suasana romantis seperti menatap matanya dengan senyuman lembut, menggenggam tangannya dan juga membelai rambutnya. Dengan usaha ini, diharapkan bisa membuka hati dan menumbuhkan romantisme di antara pasangan pengantin baru ini.

6. AKTIVITAS SEKSUAL DI MALAM PERTAMA[1]

Naluri seksual setiap orang tentu berbeda-beda. Ada wanita yang langsung merasa cocok dan bergairah di pertemuan pertama, tetapi ada juga wanita yang takut dan waswas melakukan jimak untuk pertama kalinya. Hal itu wajar saja, karena itu adalah pengalaman pertama mereka.

TIDAK HARUS BERJIMAK DI MALAM PERTAMA

Seorang suami harus bersabar dan melihat kondisi istri. Jika memang belum siap, interaksi seksual yang menjurus kepada jimak tidak harus dilakukan di malam pertama. Berjimak di malam pertama bukanlah hal yang wajib. Yang paling penting di pertemuan pertama tersebut adalah membangun keakraban, keterbukaan dan romantisme.

JANGAN SUNGKAN JIKA MEMANG SUDAH SIAP

Ketika kedekatan mulai terjalin, ketika aktivitas seksual sudah bisa diterima dan dinikmati kedua belah pihak, ketika jantung berdebar kencang dan gairah seksual sudah terlihat di wajah masing-masing, maka sudah saatnya meluapkan gairah seksual tersebut dengan berjimak.

 

Semoga Allah membimbing kita dalam membangun keluarga yang diliputi dengan ketenangan, cinta dan kasih sayang.

 

 

[1] Aktivitas seksual tidak terbatas hanya pada jimak. Aktivitas seksual adalah segala bentuk kegiatan yang menjurus kepada seksual, seperti merayu, menyentuh, membelai, meraba, berciuman dan puncaknya adalah berjimak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *